Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan di Masjid Agung Demak pada hari Sabtu, 17 Januari 2026, merupakan sebuah peristiwa keagamaan dan pendidikan yang memiliki dimensi multidimensional. Acara ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah manifestasi dari upaya pelestarian nilai-nilai sejarah Islam di Nusantara yang disinergikan dengan pola pendidikan karakter bagi generasi muda.1 Dengan melibatkan partisipasi masif sebanyak 793 siswa dari jenjang kelas 1 hingga kelas 6, serta didampingi oleh 75 dewan guru dan asatidz, kegiatan ini menjadi laboratorium sosial dan spiritual di salah satu situs paling bersejarah di Pulau Jawa.3 Analisis terhadap kegiatan ini memerlukan pemahaman mendalam mengenai konteks historis tempat penyelenggaraan, sinkronisasi kalender Hijriah-Masehi, serta struktur liturgi acara yang mencakup tahlil, maulid, sholawat, dan mauidhoh hasanah.
Signifikansi Historis Lokasi: Masjid Agung Demak sebagai Episentrum Dakwah
Penyelenggaraan peringatan Isra' Mi'raj di Masjid Agung Demak memberikan beban simbolis yang sangat kuat. Masjid ini bukan hanya bangunan fisik, melainkan simbol harmonisnya perpaduan antara ajaran Islam dengan budaya Jawa yang telah bertahan selama lebih dari lima abad.1 Sebagai masjid tertua di Pulau Jawa, Masjid Agung Demak merupakan warisan dari para Wali Songo, sembilan ulama legendaris yang memprakarsai penyebaran Islam secara moderat dan akomodatif.1
Arsitektur masjid ini, dengan atap tumpang tiga yang bertumpuk, mencerminkan filosofi transisi dari arsitektur Jawa Hindu-Buddha menuju Islam.8 Setiap tingkatan atap memiliki makna filosofis yang mendalam: tumpang pertama melambangkan syariat (hukum Islam), tumpang kedua melambangkan tarekat (jalan spiritual), dan tumpang ketiga melambangkan hakikat (kebenaran Ilahi).1 Keberadaan 793 siswa di dalam ruang utama yang didukung oleh empat saka guru atau tiang utama legendaris—yang konon dibuat oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Gunung Jati—menciptakan suasana pembelajaran yang imersif.1
Saka Tatal, salah satu tiang yang dibuat dari serpihan kayu oleh Sunan Kalijaga, menjadi metafora penting bagi para siswa tentang bagaimana persatuan dari elemen-elemen kecil dapat membentuk pilar kekuatan yang kokoh.1 Pengetahuan mengenai detail sejarah ini memberikan konteks bagi siswa bahwa mereka berada di pusat gravitasi spiritual di mana strategi dakwah Wali Songo dirancang dan disebarkan ke seluruh penjuru Nusantara.1 Hubungan erat antara masjid ini dengan Kerajaan Islam Demak pimpinan Raden Patah menegaskan bahwa kegiatan yang diikuti oleh para siswa dan guru tersebut merupakan kelanjutan dari sejarah panjang kepemimpinan spiritual dan politik di tanah Jawa.1
Elemen Arsitektur
Makna Filosofis/Sejarah
Relevansi Edukasi bagi Siswa
Atap Tumpang Tiga
Syariat, Tarekat, Hakikat
Tahapan pertumbuhan spiritual dan disiplin ibadah.1
Empat Saka Guru
Pilar Kekuatan Islam (Wali Songo)
Keteladanan tokoh ulama dalam membangun peradaban.1
Pintu Bledeg
Angka Tahun 1466 M / Perlindungan
Kesinambungan sejarah dan kekuatan iman.1
Mihrab Berukir
Kaligrafi Arab dan Akulturasi
Keindahan seni Islam yang menghargai budaya lokal.
Analisis Temporal dan Sinkronisasi Kalender Januari 2026
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 17 Januari 2026, ini secara kalenderial berada tepat satu hari setelah hari peringatan resmi Isra' Mi'raj 27 Rajab 1447 Hijriah, yang jatuh pada hari Jumat, 16 Januari 2026.9 Pemilihan hari Sabtu menunjukkan strategi manajerial sekolah untuk memaksimalkan partisipasi tanpa mengganggu ritme ibadah Jumat di Masjid Agung yang biasanya sangat padat oleh peziarah umum.3
Dalam perspektif astronomis dan kalender Islam, Januari 2026 merupakan periode transisi penting di mana umat Islam mulai bersiap memasuki bulan Sya'ban dan Ramadan 1447 H.11 Tabel berikut menunjukkan perbandingan tanggal krusial pada bulan Januari 2026 sebagai latar belakang waktu kegiatan:
Tanggal Masehi
Tanggal Hijriah
Hari
Keterangan Peristiwa
15 Januari 2026
26 Rajab 1447
Kamis
Malam Isra' Mi'raj (setelah Maghrib).13
16 Januari 2026
27 Rajab 1447
Jumat
Hari Libur Nasional Isra' Mi'raj.9
17 Januari 2026
28 Rajab 1447
Sabtu
Penyelenggaraan Acara di Masjid Agung Demak.
20 Januari 2026
1 Syakban 1447
Selasa
Awal bulan Syakban.9
Penempatan acara pada 28 Rajab memungkinkan para siswa untuk merefleksikan kembali peristiwa yang diperingati pada hari libur nasional sebelumnya dengan cara yang lebih terstruktur melalui pendampingan guru.2 Hal ini selaras dengan tradisi keagamaan di Demak dan sekitarnya yang sering kali memperpanjang masa perayaan melalui berbagai pengajian dan haul guna memperdalam pemahaman umat.
Dinamika Partisipasi: Dimensi Pedagogis dan Demografi
Keterlibatan 793 siswa yang mencakup seluruh tingkatan kelas (1-6) merupakan tantangan logistik sekaligus peluang pedagogis yang besar. Kehadiran 75 dewan guru dan asatidz menunjukkan rasio pendampingan sekitar 1:10, yang sangat ideal untuk menjaga ketertiban di area sakral seperti serambi dan ruang utama Masjid Agung Demak.3
Dalam konteks pendidikan, membawa siswa ke lokasi sejarah seperti ini menerapkan prinsip contextual learning. Siswa tidak hanya membaca teks tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, tetapi mereka mengalaminya melalui visualisasi bangunan yang memiliki kaitan historis dengan penyebaran narasi tersebut di tanah Jawa.15
Kelompok Partisipan
Jumlah
Peran dan Tanggung Jawab
Siswa (Kelas 1-6)
793 Anak
Peserta aktif dalam ritual doa dan penerima mauidhoh.
Dewan Guru & Asatidz
75 Orang
Fasilitator, pengawas adab, dan pembimbing spiritual.
Pemimpin Ritual
3 Tokoh
Ustadz Muhlisin (Tahlil), M. Ulin Nuha (Maulid), Asyiqin Muhtarom (Mauidhoh).
Bagi siswa kelas rendah (1-3), fokus kegiatan lebih ditekankan pada pengenalan atmosfer masjid dan pembiasaan sholawat, sementara bagi siswa kelas tinggi (4-6), kegiatan ini menjadi sarana untuk mendalami hikmah filosofis di balik perintah salat lima waktu yang menjadi oleh-oleh utama dari perjalanan Mi'raj Nabi ke Sidratul Muntaha.2
Struktur Liturgi: Tahlil, Maulid, dan Transmisi Nilai
Rangkaian acara yang disusun secara sistematis mencerminkan corak Islam tradisional yang kental dengan nuansa Nahdlatul Ulama (NU), yang merupakan basis massa terbesar di Kabupaten Demak.5 Penggunaan elemen tahlil, maulid, dan sholawat sebelum mencapai inti ceramah (mauidhoh hasanah) bertujuan untuk membangun kondisi spiritual peserta agar lebih siap menerima pesan-pesan moral.6
Tahlil dan Penghormatan Leluhur
Tahlil dipimpin oleh Ustadz Muhlisin, AH. Penggunaan gelar "AH" (seringkali merujuk pada Al-Hafidz atau penghafal Al-Qur'an) memberikan otoritas keilmuan yang tinggi bagi pemimpin doa.17 Dalam konteks Masjid Agung Demak, tahlil memiliki signifikansi khusus karena di area masjid tersebut terdapat makam para Raja Demak, termasuk Raden Patah.3 Tahlil berfungsi untuk menghubungkan para siswa dengan akar sejarah mereka, mendoakan para pendahulu yang telah berjasa dalam penyebaran agama.18 Ini mengajarkan nilai tawadhu (rendah hati) dan bakti kepada para sesepuh peradaban.5
Maulidul Rasul dan Resonansi Sholawat
Sesi Maulidul Rasul dan sholawatan dipimpin oleh M. Ulin Nuha, S.Pd. Menarik untuk dicatat bahwa pemimpin sesi ini memiliki latar belakang pendidikan formal (S.Pd), yang menunjukkan integrasi antara akademisi dengan tradisi religius.19 Pembacaan Maulid adalah bentuk ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan melalui pembacaan syair-syair sejarah hidup beliau.14
Sholawatan yang diikuti oleh 793 anak menciptakan suasana yang sangat emosional. Dalam tradisi Demak, sholawat seringkali diiringi dengan irama yang membangkitkan semangat, yang bagi anak-anak sekolah dasar, berfungsi untuk meningkatkan rasa kepemilikan terhadap identitas keislaman mereka.2 Hal ini juga berfungsi sebagai teknik manajemen massa; melalui lantunan sholawat yang serempak, ratusan anak dapat terkondisi dalam satu ritme yang sama, meminimalisir kegaduhan di lingkungan masjid.14
Mauidhoh Hasanah: Refleksi dan Implementasi Karakter
Puncak acara adalah Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Asyiqin Muhtarom. Dalam tradisi pengajian Jawa, mauidhoh hasanah adalah penyampaian materi inti yang bersifat persuasif dan edukatif.20 Materi utama dalam peringatan Isra' Mi'raj di kalangan pelajar biasanya berkisar pada lima poin utama:
Kebesaran Allah SWT: Menunjukkan bahwa perjalanan mustahil dalam semalam adalah bukti kekuasaan mutlak Tuhan.16
Penyucian Hati: Mengambil ibrah dari peristiwa pembedahan dada Nabi sebelum perjalanan dimulai, sebagai simbol pentingnya kebersihan hati dalam menuntut ilmu.22
Kewajiban Salat Lima Waktu: Menjelaskan proses negosiasi keringanan salat dari 50 waktu menjadi 5 waktu sebagai bentuk kasih sayang Nabi kepada umatnya.15
Keteladanan Akhlak: Meneladani respon Nabi terhadap ujian, seperti saat ditolak di Thaif namun tetap mendoakan kebaikan bagi mereka.15
Pendidikan Karakter dan Anti-Bullying: Relevansi modern di mana nilai-nilai agama digunakan untuk memerangi kekerasan di sekolah.18
Asyiqin Muhtarom kemungkinan besar menekankan bahwa salat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana utama bagi siswa untuk berkomunikasi dengan Allah SWT dan menjaga disiplin diri di tengah tantangan zaman digital.2
Analisis Sosiokultural: Integrasi Sekolah dan Tradisi Lokal
Kabupaten Demak memiliki tradisi unik dalam merayakan hari-hari besar Islam. Selain acara formal di dalam masjid, seringkali perayaan semacam ini diikuti dengan tradisi Ambengan atau makan bersama di dalam serambi masjid.6 Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam rincian acara singkat, keberadaan 793 siswa dan 75 guru di Masjid Agung biasanya melibatkan elemen kebersamaan ini sebagai wujud syukur.21
Tradisi ini memiliki fungsi sosiologis untuk menghapuskan sekat-sekat strata sosial di antara siswa. Di hadapan Tuhan dan di dalam rumah Wali, semua siswa—baik kelas 1 maupun kelas 6—duduk di lantai yang sama, mendengarkan nasehat yang sama, dan mengamini doa yang sama.6 Hal ini memperkuat modal sosial masyarakat Demak sejak usia dini.
Selain itu, pemilihan hari Sabtu juga bersinggungan dengan kalender pasaran Jawa. Tanggal 17 Januari 2026 bertepatan dengan Sabtu Pahing menurut penanggalan Jawa.5 Dalam budaya lokal, kombinasi antara hari besar Islam dan hari pasaran tertentu seringkali menambah kekhidmatan acara bagi masyarakat sekitar, yang memandang keselarasan waktu sebagai bentuk keberkahan.21
Dimensi Teologis: Narasi Perjalanan dan Hikmah untuk Generasi Alpha
Penyampaian kisah Isra' Mi'raj kepada 793 anak-anak "Generasi Alpha" memerlukan pendekatan yang relevan. Perjalanan Nabi melalui tujuh lapis langit dan pertemuan dengan para Nabi terdahulu adalah narasi yang dapat dikemas sebagai perjalanan heroik yang melampaui imajinasi fiksi ilmiah manapun.2
Tingkat Langit
Nabi yang Ditemui
Nilai yang Dapat Dipetik
Langit Pertama
Nabi Adam AS
Penghormatan kepada asal-usul manusia dan orang tua.16
Langit Kedua
Nabi Isa AS & Yahya AS
Semangat muda dalam berdakwah dan kelembutan hati.16
Langit Ketiga
Nabi Yusuf AS
Keteguhan iman menghadapi godaan dan keindahan akhlak.16
Langit Keempat
Nabi Idris AS
Pentingnya ilmu pengetahuan dan derajat orang berilmu.16
Langit Kelima
Nabi Harun AS
Retorika yang baik dan dukungan terhadap saudara.16
Langit Keenam
Nabi Musa AS
Kegigihan dalam membela kepentingan umat (keringanan salat).16
Langit Ketujuh
Nabi Ibrahim AS
Ketauhidan murni dan fondasi agama yang kokoh.16
Melalui narasi ini, para asatidz dan penceramah di Masjid Agung Demak berupaya menanamkan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk mencapai "mi'raj"-nya masing-masing melalui prestasi dan ketaatan kepada Allah.2 Hal ini penting untuk membangun kepercayaan diri siswa di tengah persaingan global, dengan tetap memiliki jangkar spiritual yang kuat di Masjid Agung Demak.
Implikasi Kebijakan Pendidikan Karakter di Demak
Kegiatan ini mencerminkan keberhasilan sinergi antara kebijakan pemerintah daerah (melalui sekolah-sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan atau Kemenag) dengan pengelola situs budaya.5 Bupati Demak dalam berbagai kesempatan sering mengajak masyarakat untuk memperkuat ketakwaan melalui pemanfaatan Masjid Agung sebagai pusat kegiatan masyarakat.5 Penyelenggaraan acara yang melibatkan hampir 800 siswa ini merupakan implementasi nyata dari ajakan tersebut.
Dampak jangka panjang dari kegiatan ini bagi siswa meliputi:
Penguatan Identitas Lokal: Siswa merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat Demak yang memiliki sejarah Islam yang agung.4
Literasi Sejarah: Pemahaman langsung tentang artefak sejarah seperti Saka Tatal dan Pintu Bledeg di lokasi aslinya.1
Peningkatan Religiusitas: Motivasi untuk memperbaiki kualitas salat lima waktu sebagai hasil dari refleksi Isra' Mi'raj.15
Kesimpulan dan Refleksi Akhir
Peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Demak pada 17 Januari 2026 merupakan sebuah model pendidikan holistik yang menggabungkan aspek kognitif (sejarah dan hukum Islam), afektif (cinta kepada Rasul), dan psikomotorik (ritual ibadah). Keberhasilan mengumpulkan 793 siswa dan 75 tenaga pendidik dalam satu forum yang khidmat menunjukkan bahwa tradisi keagamaan di Demak masih sangat relevan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman.1
Dibimbing oleh tokoh-tokoh seperti Ustadz Muhlisin, M. Ulin Nuha, dan Asyiqin Muhtarom, acara ini berhasil mentransformasikan kisah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW menjadi pelajaran hidup yang nyata bagi para pelajar. Di tempat di mana para wali dulu bermusyawarah, kini generasi baru Demak diajarkan untuk menjaga warisan tersebut. Keselarasan antara arsitektur masjid yang penuh filosofi, ketepatan waktu dalam kalender Hijriah-Masehi, dan struktur liturgi yang kaya akan nilai budaya, menjadikan peristiwa ini sebagai tonggak penting dalam pembentukan karakter bangsa yang religius dan berbudaya di jantung Pulau Jawa.

Posting Komentar